Syahrini : Respon dari Serakan Dunia Maya

Oleh : Dodi Faedlulloh

Siapa yang tidak tahu dengannya? Namanya terus menerus disebut, lebih-lebih saat jadi penerima David Beckham dkk saat datang ke Indonesia. Perilakunya yang terkesan norak, setidaknya hujatan-hujatan dari masyarakat, bahkan dari kalangan selebritis via media sosial cukup merepresentasikan persepsi dan penilaian terhadap satu artis ini.

Dengan dandanan mirip Victoria Adam, istri dari Beckham, dengan jambulnya yang ia beri nama jambul khatulistiwa cukup mengerutkan dahi. Dari mana asal muasal penamaan tersebut. Tapi artis yang dikenal karena sesuatu-nya itu tetap merasa percaya diri dengan tingkah, kalau bahasa anak muda kontemporer, disebut alay. Bahkan ia sempat berstatment Beckham mencuri-curi pandang. “Aku sama Beckham selalu lihat-lihatan mata, eye contact. Dia lihat ke aku dan aku juga," ujarnya ke beberapa media saat wawancara.


Awalnya saya tidak begitu peduli, tapi dari ketidaksengajaan melihat beberapa tautan yang muncul di feednews yang membicarakan Syahrini cukup menggoda untuk mengkliknya. Bahkan ketika buka akun twitter, seorang politikus ikut iseng membahas. Salah satunya Budiman Sudjimatmiko. Dengan tweet, “Syahrini dampingi Beckham.siapa kira2 selebritis yg pas jd #PendampingCR7danKaka jika @realmadrid ke Jkt?”. Beragam jawaban hadir dari para followernya. 

Woman Escorting?

Dari pertanyaan laki-laki yang lahir 10 Maret 1970 di Majenang tersebut, banyak followernya yang menjawab nama-nama perempuan. Sekurang-kurangnya yang dia retweet. Bahkan gara-gara itu ada beberapa yang menanggapi arahan pertanyaan dari Budiman justru mendukung woman escorting

Menghadirkan sosok Syahrini sebagai pendamping dapat dianalisis lewat seksisme. Begitu juga dari beberapa tweet yang saya iseng lihat dari follower Budiman -yang juga perempuan- menolak seksisme tersebut.

Tidak semua follower menjawab nama selebritis perempuan. Ada yang menjawab Ibas, SBY, Budi Anduk dan nama-nama yang kiranya dijawab secara iseng dan sekenanya juga. Namun melihat porsi jawaban nama selebritis perempuan lebih banyak, tidak heran ada yang merespon secara kritis. Dengan cukup bijak politikus yang pernah menjadi anggota PRD ini menjawab, “Saya tdk mengajukan pertanyaan yg dukung WOMEN-Escorting, melainkan ttg Escorting in general :) baca scr seksama”.

“Waaah sayang yak hampir semua jawab perempuan, berarti mindsetnya demikian :S tp baguslah sy yg salah tangkap hehe” jawab seorang perempuan berakun @VeronicaKoman yang kemudian Budiman retweet. Memang kita perlu menginsyafi, posisi perempuan sangat rawan untuk terjebak dalam objektivikasi hasrat. Inilah yang tidak boleh kita bosan untuk terus berusaha meluruskan kekeliruan paradigma tersebut. Pertanyaan tanpa tendensi, yang bisa jadi sekedar iseng, karena Budiman sendiri sempat mengatakan #abaikan dalam timelinenya, justru direspon dengan reaksioner penyebutan nama –selebritis- perempuan. Ini hal biasa di twitterland. Saya sendiri kadang menjawab sekenanya pertanyaan iseng dari beberapa tweet selebritis sampai politikus yang saya follow. Tidak ada jeda perenungan kembali, kadang bersifat aphoris, semacama ulah nyeletuk ketika di forum atau di kelas. Nah itu yang menjadi menarik untuk dikaji, celetukan biasanya berasal dari alam bawah sadar yang sudah terinternalisasi.

Ada dua kemungkinan mengapa banyak follower Budiman Sudjatmiko mengusung nama-nama perempuan untuk mendampingi “Ronaldo dan Kaka”. Pertama, karena terjebak klu yang sempat dilontarkan Budiman, Syahrini. Akhirnya dengan sendirinya, tanpa rencana dan juga tendensi apapun menjawab pertanyaan anggota DPR komisi II dengan nama perempuan juga. Itu “jebakan” yang tidak sengaja dibuat Budiman. Padahal maksudnya bukan seperti itu.

Kemungkinan kedua, follower yang menjawab dengan nama perempuan murni karena jauh sebelum Syahrini didaulat menjadi pendamping David Beckham kemarin, mindset yang terkonstruk, seorang pendamping adalah mesti/wajib berkelamin perempuan. Apa lagi untuk agenda yang tersentuh nilai entertainment. Umbrella girl adalah girl, ya sosok perempuan cantik, seksi dan bla-bla lainnya yang menggairhkan. Ataupun di acara lainnya yang mengedepankan sosok perempuan sebagai objek yang indah.

Alasan kedua ini yang cukup perlu perenungan ulang. Saya bukan ahli gender, atau bahkan feminis seperti sosok almarhum Mansour Fakih yang dalam beberapa tulisannya ‘melebihi’ feminisme walaupun dia seorang laki-laki. Namun saya tidak sepakat jika kaum perempuan menjadi komoditas. Seperti kasus mobil-mobil nan mewah mendadak menjadi lebih wah ketika didepannya ada sosok perempuan dengan baju minim, atau yang lebih gilanya saat Idul Adha kemarin, ada penjualan sapi dengan memakai jasa SPG-SPG yang cantik. Tjoet Nyak Dien, Kartini, atau bahkan Marsinah tentunya akan merasa sedih bila melihat kaumnya diperlakukan demikian, dan lebih sedih lagi jika si sang perempuan benar-benar sudah terhegemoni dengan tanpa sadar justru bangga dengan aksinya tersebut.

Syahrini dengan gayanya kemarin, tidak sedikit yang mengomentari perilakunya cukup memalukan. Namun ia tetap enjoy, bahkan kealayannya dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Bertemu dengan seorang bintang yang difavoritkan berlaku di luar nalar normal, seperti tanda tangan di payudara adalah sah-sah saja. Kurang-lebih seperti itu. Di luar rasionalisasi sebenarnya pihak yang mengundang dan mendaulat Syahrini, sedikit menerka, jangan-jangan Syahrini pun korban. Korban yang senang dan bangga menjadi ‘korban’ seksisme tadi. Mungkinkah? ***

2 komentar:

Ferdinand mengatakan...

Haduh... wanita satu ini emank sesuatu banget deh pokoknya... sumpah ampe bosen aku nonton TV gara2 si syahrini hha... mana jambulnya tinggi bener.... sampe minta tanda tangan didada lagi -_-" ini cewe asalnya dari mana sih? *hayah

tiwi mengatakan...

sekarang baru ketahuan kenapa syahrini didepak anang wkwkkwk keliatan aslinya, selain photo2 syurnya di dunia maya tentunya hihi, bnr2 minta ampun deh tuh cewe ya, mending yg dampingin kayak levelnya Maudy Kusnaedy, Susan Bachtiar atau Dian Sastro deh... nice personality, n bisa promosiin negara Ina juga ^_^

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma