Saya, Dia dan Amerika

Oleh : Dodi Faedlulloh

"Amin", kata yang secara tidak sadar terlontar dalam hati setelah muncul dalam timeline keinginan atau mimpi besarnya berkunjung ke Amerika. Dia meng-tweet via tumblr, jadi tidak tepat juga kalau disebut tweet. Ada semacam otomatisasi yang sudah diatur olehnya, tiap postingan dalam tumblr akan masuk juga dalam timelinenya. Ternyata benar, beberapa saat ‘tweet’ tersebut hilang dalam timeline, mungkin dia sengaja menghapusnya. Jadi ingin tahu alasanya. Mungkin malu kah ? Memang, dia kadang menjadi gadis pemalu, tapi tidak jarang menjadi gadis yang begitu lincah. Saking lincahnya, orang yang di sekitarnya bisa dibuatnya bingung.

Tidak penting juga membahas apakah itu benar tweet atau postingan via tumblr, ada yang lebih penting malam ini. Dia masih belum membalas pesan singkat yang saya kirim. Mungkin dia masih sibuk di ruang komunitasnya, yang tadi sore saya sempat antar. Tapi sayang, kasat mata, wajahnya tiba-tiba menjadi masam, sebuah anti-klimaks, padahal sebelumnya masih hangat dengan tawa dan candaan. Bahasa tubuhnya menggambarkan sebuah kekesalan, kekesalan yang sama sekali saya tidak tahu alasannya. Mungkin saya kurang peka, tapi apa daya. Tolong maafkan saya !


Kembali ke Amerika, sebuah negara besar yang begitu mendominasi dunia, dia sangat ingin berkunjung kesana. Kalau boleh berseloroh, banyak orang yang menyebut saya sebagai anti-Amerika, terkait propaganda yang kerap kali saya ucap, secara sederhana bisa diterjemahkan dengan maksud ke arah sana, ke sebuah arah yang selalu mempermasalahkan Amerika sebagai biang keladi dari krisis dunia. Bila ada orang yang mengartikan saya anti-Amerika beserta tetek-bengek lainnya, berarti saya masih belum pandai dalam beretorika. 

Suatu waktu, tepatnya hari ini tiba-tiba seseorang yang dalam kamus facebook ada istilah ‘in relationship with’ untuk menunjuk status hubungan seseorang dengan seseorang lainnya, dalam bahasa yang tidak ribet, orang-orang biasanya menyebut pacar, kekasih, atau yang lainnya, tiba-tiba bermimpi ingin melakukan perjalanan dan berkunjung ke Amerika. Seperti yang dikemukakan di muka, karena kelemahan dalam beretorika, maksud dari tiap lisan-tulisan saya tentunya bukan dalam artian mengajak semua orang untuk membenci Amerika. Pastinya adalah tindakan bodoh dan keliru bila harus membenci 308.871.000 orang yang ada di sana. Karena yang saya kutuk sejatinya adalah corak produksi yang eksploitatif, secara ‘kebetulan’ bertengger dan penuh dominasi di negara tersebut. Dari sekitar tiga ratus juta penduduk Amerika pun banyak yang telah menjadi korban dari sistem ekonomi yang dianut oleh para elit korporatisasi yang berkuasa. Jadi tentu bukan itu yang saya maksud.

Noam Chomsky, seorang tokoh yang kerap saya kutip pemikiran-pemikirannya, dia pun berasal dari Amerika. Pemikiran kritisnya atas tiap tindakan penghancuran yang selalu dilakukan oleh negaranya selalu menjadi ‘kiblat’ bagi para intelektual sebagai rujukan revolusioner. Adalah tidak mungkin saya membenci Chomsky karena dia berasal dari Amerika.

Sebuah Mimpi : Motivasi

Tanah, air, langit dan alam semesta bersifat God Given. Tak ada satu personal pun yang berhak berkuasa atasnya dan menjadikannya sebagai komoditas. Tapi dalam medan bernama epos kapitalisme, yang kian hari kian ganas, namun pula menujukan kebobrokannya yang terlihat dari potensi krisis yang menyebar menjadi krisis multidimensi, kini hadiah Tuhan pun jadi lahan privatisasi. Tanah Amerika pun tentunya pemberian Tuhan, sebagai manusia bebas tentu tidak pula berhak mengutuk keberadaan tanah tersebut, manusia yang tersebar di seluruh pelosok bumi ini berhak untuk berkunjung ke sana, karena masih dalam satu letak geografis ciptaan Tuhan termasuk dia.

Saya belum tahu alasan dia bermimpi ingin berkunjung ke Amerika. Tapi yang jelas, tanpa ada yang menuntut, kata ‘amin’ tiba-tiba keluar pasca membaca timelinenya tersebut. Peng-amin-an telah menjadi sebuah aphorisme, pemikiran dari seorang filusuf Nietzsche yang bisa diartikan sebagai sesuatu asli, apa adanya, yang diucapkan atau ditulis dengan singkat dan mudah diingat. Peng-amin-an tersebut telah menjadi sebuah perasaan orisinalitas, tanpa adanya tendensi apa-apa. Ada yang berdoa, ya saya meng-amini.

Ada yang lucu bila bicara antara saya, dia dan Amerika. Beberapa waktu, dalam sebuah suasana yang cair, kita mendadak mendiskusikan tempat makan yang akan dikunjungi. Sebelum menentukan tempat makan, selalu ada diskurusus yang terselip tentang perusahaan yang menaungi lisensi tempat makan yang akan dikunjungi. Kalau misalnya ada asosiasi dengan Amerika saya menolaknya dengan menjelaskan alasan-alasannya. Walaupun saya begitu menginsyafi boikot produk Amerika sungguh tidak akan efektif, tapi bukan itu yang saya jelaskan. Saya hanya memberi pilihan, apakah dia mau ikut secara tidak langsung berkontribusi ‘membunuh’ saudara-saudaranya atau tidak. Tapi sesekali dengan candaannya yang khas dia kadang masih mengajak untuk makan di tempat-tempat yang berbau Amerika.

Dia sempat bercerita tentang harapan orang tuanya yang ingin dia bisa melanjutkan pendidikannya di S2, kemudian tentang semangat belajar Bahasa Inggris yang menggebu. Menarik juga kalau yang dia mimpikan ternyata obsesinya untuk melanjutkan pendidikannya di Amerika. Ah, tapi apapun alasan sebenarnya, semoga dia bisa menggapai impiannya. Besok, lusa atau kapan pun itu, saya akan coba tanyakan alasan tentang mimpinya itu. Sebagai orang terdekat, saya tentu akan mendukungnya. []

1 komentar:

Sheno World mengatakan...

kalaupun dia berangkat ke amerika untuk mengejar mimpinya, semoga dia cepat kembali untuk membangun negerinya ;D

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma