Pacaran Murah

Oleh : Dodi Faedlulloh

“Mau pacaran murah ? Ya di Burjo aja !”

Begitulah celetuk Jamal, pedagang burjo (bubur ketan ijo) sekaligus kawan saya yang berlokasi di Jalan Sumampir Purwokerto sepeninggalan dua sejoli yang baru saja keluar dari warungnya setelah hampir tiga jam ngobrol ngidul-curhat dengan hanya memesan dua gelas es teh manis seharga dua ribu rupiah. Saya pun tertawa mendengarnya dan ikut cair menanggapi celetukan Jamal. Dari cerita yang disampaikannya, kejadian tersebut bukan satu-dua kali, bahkan sang pelaku bukan pasangan tadi saja.

Fenomena yang menarik dan lucu, tentang gaya pacaran anak muda hari ini. Saya tidak menyalahkan, malah menyebutnya sebagai cara alternatif pacaran di tengah konstruk hegemoni budaya barat nan cendrung tenggelam dalam efouria poya-poya. Konsekuensi logis saya kira, jika ada dua orang yang ingin berkomitmen menjalin hubungan dalam tahap pacaran, pasti akan butuh biaya. Bisa laki-laki atau perempuannya, karena pasangan matre tidak bisa distreotype-kan kepada satu jenis kelamin saja , tapi yang jelas akan butuh biaya. Kencan, nonton, makan, belanja, nelepon, sms dan aktivitas lainnya tidak bisa lepas dari proses perkenalan antara dua insan manusia yang berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan.


Pengorbanan material sering dilakukan oleh siapa saja yang sedang jatuh cinta. “Ya namanya juga cinta pasti butuh pengorbanan”, statement demikian sering terucap dari para kawula muda yang sedang asyik pacaran. Keluar duit sudah biasa. Kurang lebih seperti itulah logika dan alasan yang digunakan.

Di tengah arus tradisi pacaran yang mahal ternyata tidak sedikit juga ada pasangan yang memilih jalan murah-meriah seperti dua sejoli yang beberapa kali ‘nge-date’ di tempat burjonya Jamal. Ketika pasangan lain ada yang memilih café atau restaurant ada yang memilih burjo atau angkringan sebagai objek lokasi kencan, ada yang memilih naik mobil mewah ada pula yang memilih kedua kakinya untuk berjalan, ketika ada yang memilih objek wisata berbayar ada pula yang memilih alun-alun, sampai titik ekstrim nan berlebihan-nya : ada yang memilih hotel , ada juga yang memilih kebun untuk ‘berekspersi’. Begitulah dinamikanya, antara high level dan rationalization (not low) level

Pacaran pun perlu konsesus, pilihan pacaran murah tentu harus berdasar pilihan sadar dari keduanya, itu yang penting. Tidak berarti style pacaran murah dikhususkan bagi kelas menengah ke bawah saja, karena sepengetahuan saya, tidak sedikit mereka yang memiliki kondisi objektif kaya tujuh turunan, tetap memilih jalur alternatif ini, begitu pula sebaliknya, sudah tahu kekurangan tapi tetap saja ada yang memaksakan, demi gengsi atau apapun itu. Jadi gaya pacaran murah hanya memungkinkan bagi mereka, dalam bahasa sinetronnya, yang murni berlandaskan cinta, bukan yang neko-neko. 

Saya bingung tujuan dari menulis teks-teks ini apa. Sebut saja sebagai bentuk apresiasi bagi muda-mudi yang memilih rasionalisasi budget. Karena hemat saya, romantisme tidak bisa diukur dalam persfektif mahal-murah, lebih dari itu. Altruisme, sebuah istilah yang pernah digagas oleh August Comte, sepertinya patut menjadi dasar ikatan komitmen dalam pacaran. 

Sedikit mendekontruksi, tradisi pacaran tidak pernah berasosiasi langsung dengan hal-hal yang bersifat mahal. Pacaran justru menjadi sebagai proses menerima apa adanya pasangan kita. Berlatih komunikasi, bersikap jujur dan tanpa ada dominasi satu pihak. Aktivitas penghangat yang memerlukan biaya seperti kencan, nonton dll hanya instrument saja. Tak pernah ada yang namanya aturan baku berkencan. Adalah kebebasan masing-masing pasangan untuk memilih. 

Mungkin karena terpengaruh sinetron yang selalu menyajikan glamoritas sedikit-banyak mempengaruhi kekeliriaun muda-mudi dalam pacaran yang harus melulu dihubung-hubungkan dengan café mahal, bioskop, mobil dan tetek-bengek lainnya.

Motivasi orang memilih gaya pacaran murah bervariasi, ada karena motivasi penyesuaian dengan kondisi objektif, murni ingin berhemat, ingin menguji pasangan, atau karena sudah menjadi sesuatu hal biasa, secara alamiah gaya pacaran murah yang memang bukan diada-ada oleh pasangan tersebut. 

Pacaran murah itu oke, tapi bukan berarti harus dimaknai secara tunggal untuk melakukan iritisasi melulu, sesekali tak apalah untuk memberikan sesuatu yang lebih dalam bentuk material, anggap saja sebagai pengorbanan atau bukti ketidak-kerean. Bukan begitu ? []

4 komentar:

Yudi Darmawan mengatakan...

ada award nih buat mas dodi di hari spesial blog saya,
silahkan diboyong..

http://insideyudie.blogspot.com/2011/06/1st-anniversary-chronologist_21.html

Dodi Faedlulloh mengatakan...

Terimakasih kawan Yudi

Riska mbem mengatakan...

saya masih bingung sama gaya ngedate orang pacaran. Maklum, kaga pernah yang begonoan heheu

FridiGraph mengatakan...

hahha :D
betul banget tuh

Salam dari blogger Jogja :)

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma