Anarkisme yang Humanis

Oleh : Dodi Faedlulloh

“Anarchism is not : It is not bombs, disorder, or chaos. It is not robbery and murder. It is not a war of each against all. It is not a return to barbarism or to the wild state of man. Anarchism is the very opposite of all that.”. Alexander Berkman (1870-1936) Seorang Anarkis Kelahiran Lithuania

Ah gila, anarkis banget lo Dod!” begitulah kira-kira kata salah seorang kawan saat melihat keisengan saya yang dianggap terlalu extreme olehnya.

Anarkis, kata tersebut sering didengar dalam kehidupan sehari-hari yang selalu dihubung-hubungkan dengan perilaku yang menimbulkan kekacauan, keonaran, kehancuran dan kekerasan. Tidak hanya kawan saya tadi, begitu juga di media massa kata anarkis atau anarkisme begitu lekat dengan segala macam bentuk tindakan yang brutal. Misalnya bilamana melihat para demonstran yang melakukan kerusuhan lalu melakukan pengrusakan fasilitas-fasilitas umum dan bentrok dengan polisi lantas yang tiba-tiba muncul dalam benak dikebanyakan orang adalah kata “anarkis”.
Kata anarkis atau anarkisme memang sudah terlanjur dianggap negatif oleh kebanyakan orang, tak hanya orang awam, kalangan akademia juga berpendapat hal yang sama. Padahal bila kita bisa menyempatkan diri untuk menyelami makna dari anarkisme itu sendiri lebih dalam mungkin akan berpikir ulang saat akan melafalkan kata “anarkis”.

Memandang Sejarah

Anarkisme itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu anarchos/anarchia. Artinya tanpa pemerintahan (without rulers). Sederhananya kata anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Kemudian bila disisipi kata -isme berarti bermakna faham,ajaran atau ideologi. Dalam perkembangannya anarkisme pun tumbuh menjadi bentuk gerakan sosial politik dan pemikiran filsafat yang menyatakan bahwa semua bentuk negara, pemerintahan dan kekuasaan adalah buruk dan oleh karena itu harus ditolak dan dihancurkan. Kemudian anarkismepun berkembang dan menjadi bagian dari ideologi sosialis diluar pemikiran seorang tokoh yang sering dikenal sebagai Bapak Sosialis : Karl Marx.

Saya memang tidak terlalu mengerti lebih luas tentang anarkisme, maklum dunia akademik saya tidak mengajarkan hal demikan. Namun bila membicarakan anarkisme tentu tidak akan jauh dari tokoh-tokoh anarkisme itu sendiri. Mungkin tokoh kaum anarkisme yang paling dikenal adalah Pierre Joseph Proudhon, Mikhail Bakunin dan Alexander Berkman.

Proudhon boleh disebut sebagai orang pertama yang menyatakan dirinya adalah seorang anarkis . Namun anarkisme ala Proudhon sama sekali tidak pernah menyetujui segala macam bentuk kekerasan dan pemberontakan. Karena dia merasa kekerasan justru akan memunculkan kediktatoran yang akan semakin mempertajam pertentangan kelas. Bahkan diapun pernah bersitegang dan silang pendapat dengan Karl Marx. Tahun 1840 dia menulis essay yang berjudul Systeme des Contadictions economiques ou La Philosophie de la Misere (System of Economical Contradictions: or, the Philosophy of Misery). Dalam tulisannya tersebut, dia begitu mengkritik komunisme ala Karl Marx. Dia merasa justru komunisme tak ubahnya dengan sistem kapitalisme yang sama-sama mengabaikan hak asasi individu dan masyarakat yang ujung-ujungnya membuat kemiskinan semakin menjadi-jadi. Proudhon lebih memilih perjuangan kaum pekerja lewat dirinya sendiri, yaitu kaum pekerja harus membantu dirinya sendiri (self help). Pembentukan koperasi-koperasi pekerja dan bank-bank rakyat yang lebih berorientasi pada pekerja adalah cara bijak yang dianjurkan oleh Proudhon. Karena Koperasi dan bank rakyat dipercayainya akan mampu mengubah dam melawan sistem kapitalis dari dalam. Kekuasaan negara, pemerintahan, beserta perangkatnya akhirnya tidak diperlukan lagi dan diganti dengan federasi komunitas-komunitas yang bebas dan mandiri secara ekonomi karena dari sini sudah akan tercipta masyarakat yang harmonis .

Proudhon cendrung berada di garis damai dalam gerakan dan perjuangan anarkisnya. Namun sejak Bakunin, salah satu penerus pemikiran Proudhon dalam hal anarkisme, merubah orientasi jalur pergerakan anarkisme dengan cara pemberontakan. Bakunin justru melegalkan gerakan-gerakan dalam bentuk aksi langsung (direct action) dari perjuangan kelas buruh. Kekerasan dan pemberontakan menurutnya adalah tindakan yang perlu dilakukan selama ditujukan kepada negara. Karena baginya kekuasaan negara telah melanggar hak-hak asasi individu yang bebas . Pemikiran Bakunin dalam memperjuangkan gerakan anarkismenya dengan cara revolusioner dan kekerasan selanjutnya diikuti oleh tokoh-tokoh anarkis lainnya seperti Alexander Berkman, Errico Malatesta dan Peter Kropotkin.

Dari sedikit perbincangan ini setidaknya telah membuka mata kita dan lebih memahami bahwa anarkisme tidaklah seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Banyak varian dari anarkisme itu sendiri, sehingga bila menganggap anarkisme hanya dalam makna tunggal justru memunculkan kesalah-pahaman yang sejatinya tidaklah perlu.

Inspirasi dari Anarkisme

Mau tidak mau harus diakui tidak sedikit manusia di dunia justru menjadi lebih humanis karena inspirasi pemikiran kaum anarkis. Banyak karya sastra tentang kemanusiaan yang sangat berbudaya terlahir dari inspirasi anarkisme. Ivan Illich pernah melakukan kritik yang membangun terhadap sekolah di era tahun 70-an. Karya dari seorang anarkis ini begitu menjadi inspirasi dalam perubahan dan pembaharuan pemikiran dan metodologi pendidikan kontemporer.

Siapa yang tidak kenal dengan seorang tokoh besar India, Mahatma Gandhi. Gandhi pun banyak membaca pikiran anarkis seperti Leo Tolstoy, Thoreau maupun Kropotkin. Gandhi adalah pelopor aksi perlawanan sosio-kultral yang dipengaruhi anarkisme di Asia. Tak hanya di negara asalnya India, Gandhi pun berhasil menyebarkan semangat aksi pergerakan resistensi dan pembangkangan sosial yang bersifat anti-kekerasan di Afrika Selatan. Gandhi memang belum berhasil mewujudkan masyarakat komunal berbasis desa swadaya, namun kontruksi pemikirannya terus dilanjutkan oleh para penerusnya dengan mengembangkan gerakan Sardovaya yang begitu disambut secara antusias oleh masyarakat luas di India pada tahun 1960-an.

Sikap Kritis dan semangat anarkisme Mahatma Gandhi pun terus diwariskan. Seperti pada tahun 1980-an muncul gerakan anti proyek pembangunan Dam Narmada di India. Pada dasarnya gerakan tersebut merupakan bentuk dari “New Social Movement” yang terinspirasi dari pikiran anarkisme. Akhirnya tahun 1992, gerakan untuk menyelamatkan Narmada ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut. Gerakan ini adalah merupakan gerakan sosial yang menantang watak otoritarian kekuasaan negara dan sikap ekstraktif dari proses ekonomi yang dominan [1].

Dari risalah kecil ini diharapkan tak ada lagi kesalah-pahaman yang mendasar terkait asumsi tentang anarkisme yang melulu dilekatkan dengan kekacauan, keonaran, perusakan dan sikap brutalisme lainnya. Anarkisme mempunyai definisi tersendiri, anarkis ya anarkis jangan dicampur-adukkan dengan yang lainnya. Justru anarkisme bisa lebih humanis dan menjadi inspirasi besar dalam melakukan gerakan-gerakan yang menentang dan melawan dehumanisasi yang sering dilakukan oleh kekuasaan negara. Jadi apakah anda masih mau menyebutkan kata “anarkis” bila tiap kali melihat bentuk kekerasan[2] ?. ***

Footnotes :
[1] Fakih, Mansour. Dalam jurnal yang berjudul Anarkisme : Paham Yang Tak Pernah Padam.
[2] Khususnya bagi kawan saya yang menyebut saya anarkis karena ulah jail dan keisengan yang sering saya lakukan. Tindakan tersebut hanya jail dan bercanda belaka tanpa ada rasa dendam apapun , bukan anarkis.

7 komentar:

Zippy mengatakan...

Wah..jadi makin paham akan anarkisme.
Ternyata mempunyai sejarahnya juga yah.
Ya..moga aja anarkisme di Indonesia segera musnah.

Anonim mengatakan...

Bung Zippy anarkisme kayanya ga akan pernah musnah, justru dengan kondisi sekarang dg adanya globalisasi yg menyerang negara-negara dunia ketiga dan kekuasaan negara justru begitu merusak rakyatnya, ya tinggal tunggu waktu saja, faham anarkisme bisa terbangun lagi

Risma Hutabarat mengatakan...

Yah..semua istilah memang bisa dibengkokkan agar sesuai dengan agenda, Dod :)
Aku sendiri termasuk orang yang memahami anarkisme itu sebagai suatu bentuk kekerasan, karena kata ini selalu muncul dalam setiap pemberitaan media begitu terjadi tindak kekerasan. Tapi, artikel ini membuatku jadi lebih mengerti.

Sama seperti istilah "radikal". Sewaktu kuliah dulu, aku ingat kalau anak-anak kampus selalu menjuluki kami-kami yang tergabung dalam kelompok Cipayung sebagai mahasiswa-mahasiswa radikal. Waktu ditanya, apa pengertian daru radikal itu sendiri, mereka menjawab, radikal itu artinya: suka memaksa dan cenderung berbuat kekerasan waktu demonstrasi.

Nah..hohohoho... aku nggak bisa bilang apa-apa lagi jadinya (dalam hati mau ketawa setengah mati) aku cuma bilang supaya dia memperbanyak baca di perpustakaan dan mencari tahu lebih jauh tentang asal kata dan makna dasar dari Radikal, baru kami ketemu lagi untuk diskusi. Dia cuma bisa manyun. Hahaha...

Banyak makna yang bisa ditanam dalam sebuah istilah, motto ataupun jargon. Dan hanya sedikit yang mau repot mencari tahu tentang makna sebenarnya ya...

Mommy Mayonnaise
Female Stuffs
Blog Perempuan Rumahan
Cerita Film

catatan Azhari AF mengatakan...

nyambung aja yah...menurut saya sih penekanan terhadap sebuah istilah adalah kepentingan itu sendiri...

Hidup Gak Rumit mengatakan...

semoga ini bukan reaksi yang sesaat buat seorang kawan. yang tidak lain disebabkan dari hegemoni wacana dari orang2 di sekitar. tapi lahan pembuktian adalah hamparan ruang yang tidak ada habisnya, setidaknya ketika kita hidup.

Viva Sosialismo!

Anonim mengatakan...

Hi all. How are you?

Anonim mengatakan...

Delete shis text plz. Sorry

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma