Memotret Black

Oleh : Dodi Faedlulloh

“Jiwa dan semangat “black” tak harus selamanya diwujudkan dengan black secara fisik”, kalimat itu yang mungkin akan Saya bahas dalam kesempatan kali ini. Ketika kita memiliki suatu semangat dan keyakinan tentang suatu hal sebenarnya tak perlu kita manifestasikan dalam bentuk fisik (cover) diri kita yang dimana selalu biasa diidentikan dengan pemakain simbol-simbol yang berkaitan dengan hal yang kita yakini tersebut. Sungguh suatu hal yang salah bila kita menilai sesuatu/seseorang hanya dari cover-nya karena belum tentu apa yang kita lihat itu akan sesuai dengan “isi” sebenarnya nya.

Sungguh sayang bilamana nilai semangat atau keyakinan kita justru direduksi oleh prespektif masyarakat karena budaya atau habit masyarakat kita yang suka menilai sesuatu hanya dari luarnya saja, padahal ada sesuatu yang mungkin saja lebih bersifat substansial tapi masih bersifat kasat mata. Tak terlihat bukan berarti kita tak bisa “meraba”kan ? Dari sanalah kita dituntut untuk bisa lebih kritis dalam menanggi dan melihat suatu hal, jangan main asal terima.

Jumat malam (11/12/2009) karena rasa lelah yang sangat sehabis bermain futsal bareng anak-anak kontrakan Saya sengaja mengajak teman-teman sebelum pulang ke kontrakan untuk melakukan transit dan beristirahat di salah satu warung penjual burjo (bubur kacang ijo) dan mie instant di Jalan Sumampir [1] tempat biasa kami nongkrong dan berdiskusi. Karena tempatnya penuh, setelah memesan minuman Saya langsung keluar dan duduk diatas motorku yang diparkir. Tak lama sembari ngobrol bareng anak-anak tiba-tiba pandangan mataku teralih ke salah satu motor vespa berwarna abu-abu yang sedang diparkir. Motor vespa yang sangat biasa tak ada hal yang istimewa sama sekali pikirku, tapi setelah dilihat dengan lebih seksama ada stiker yang memaksa mataku lebih melotot, maklum malam itu cukup gelap. Dilihat dengan teliti ada stiker bertulisan black car community yang tertempel di vespa tersebut. “Sudah vespanya berwarna abu-abu, stikernya malah black car communty lagi, ga sinkron banget ya”, Saya berguman sendiri. Tapi tanpa sadar langkahku justru tak berhenti disana, Saya malah iseng melihat apa yang ada didepan motor tersebut dan ternyata tak hanya stiker black car community yang ditempel divespa tersebut, ada satu stiker lagi yang bertulis caution im crazy about djarum black. Tak berpikir panjang lagi Saya berinisiatif meminjam hp berkamera milik salah seorang temanku (karena hp Saya tak berfasilitas kamera). Ku langsung potret stiker-stiker tersebut ( foto-foto yang dipajang dalam tulisan ini), ternyata tak hanya dua, ada satu stiker lagi yang tertempel di spakboard vespa tersebut , yakni stiker logo djarum black. Ada tiga unsur black dari motor vespa yang berwarna abu-abu tersebut. Tapi sayang orang yang punya vespa itu tak ada disana, kalau ada pasti Saya akan sedikit bertanya dan berbasa-basi ria dengannya.

Dari pengalaman ringan tersebut Saya sedikit mengambil kesimpulan sendiri, “tak selamanya apa yang kita sukai dan kita memiliki suatu keyakinan dan semangat dari hal tersebut harus selalu diwujudkan dan dilihatkan secara fisik”. Seperti halnya pengalaman ringan Saya yang bisa dijadikan analogi diatas. Saya yakin pemilik vespa tersebut berjiwa black tapi vespa miliknya tetap berwarna abu-abu[2]. Dengan tiga stikernya cukup representatif, kita bisa “meraba” apa yang disukainya. Kiranya kalau si pemilik vespa tak berjiwa black, kenapa juga harus menempelkan 3 stiker yang berunsur djarum black yang berukuran cukup besar? Iya kan ?

Terus apa relevansinya dengan kehidupan kita ? Dalam keseharian kita, tak jarang dan tak sedikit orang yang terkecoh oleh penampilan luar seseorang. Dengan sembrononya banyak orang yang langsung men-judge manusia karena tampilannya. Orang yang suka celana jeans robek selalu identik dengan preman, begitu juga sebaliknya orang-orang yang berpakean rapi identik dengan orang baik (bahkan sholeh). Ah tak bijak rasanya bila kita tetap memiliki pandangan seperti itu. Apa yang dikenakan seseorang lebih kepada apa yang dirasa nyaman oleh dirinya sendiri, kita kurang berhak mengatur seseorang dalam berpenampilan. Selama dipakai dalam situasi dan tempat yang tepat (tak mungkin kita memakai celana jeans robek ketika beribadah- sholat dalm islam-) itu murni terserah orang yang bersangkutan. Apalagi bila karena tampilan fisik tersebut langsung dijadikan standar dalam penilaian keimanan dan kekuatan agama atau kepercayaan yang dianutnya[3], itu penilaian yang semakin bodoh lagi Saya pikir. Tak ada relevansinya sama sekali kadar keimanan dilihat dari penampilan. Hanya Tuhan yang berhak menilai kadar keimanan kita, manusia sama sekali tak berkuasa darinya.

Dari penjelasan yang sedikit melebar ini pada dasarnya adalah kita jangan sekali-kali menilai sesuatu/seseorang hanya dari luar. Hanya itu, tak lebih. Kalimat ini sebenarnya sering sekali diucapkan oleh banyak orang, tapi pada kenyataanya lagi,lagi dan lagi cara penilaian tersebut terjadi. Atau memang hal ini sudah menjadi budaya masyarakat kita ? Kalau sudah menjadi budaya perlu kerja keras untuk merubah paradigma terebut, ya semoga saja kita bisa.


Catatan Kaki
[1] Salah satu nama jalan di Purwokerto Selatan.
[2] Tampaknya warna aslinya memang seperti itu.
[3] Saya sendiri pernah mengalami pengalaman “buruk” tersebut, Saya yang slengean dalam penampilan ditanggapi dengan dingin dan tidak “welcome” oleh beberapa oknum pengurus lembaga dan keorganisasian yang berlandaskan agama padahal Saya sudah resmi terdaftar dengan melalui proses yang telah diatur sedemikian rupa sebagai salah seorang pengurus, kondisi seperti itu yang membuat Saya merasa tidak nyaman.

6 komentar:

Zippy mengatakan...

Bener banget sob, kita jangan melihat sesuatu dari luarnya aja...
Segala sesuatu itu harus dicermati lebih dulu :)

Fata Hanifa mengatakan...

setuju , sama ky milih pendamping hidup . jangan cuma milih karena luarnya aja . masa iya kita mau terus-terusan hidup dalam kebohongan? AHAHAHAHAHA si ipah sok bijak -,-

Risma Hutabarat mengatakan...

Mungkin ini juga bisa jadi latar belakang munculnya istilah lucu ini:

"Tampang boleh Rambo, tapi hati tetap Rinto."
(tampangnya memang sangar, tapi hatinya se-mellow penyanyi lagu-lagu sendu."

Hehehe

Munir Ardi mengatakan...

salam kenala sahabat

Bunda Rierie mengatakan...

salam juga dari bunda..btw.. namanya kayak ponakan bunda odie

Leader Street | Kerja Keras mengatakan...

mantap contentx bro....

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma