Menangisi Kemerdekaan


Oleh : Dodi Faedlulloh

Beberapa hari lagi, bangsa kita akan menanti detik-detik perayaan proklamasi. Euforia kegembiraan memperingati hari bersejarah diwujudkan dengan berbagai macam kegiatan yang secara serentak akan diadakan di seluruh pelosok negeri. Hal ini sudah tentu patut untuk kita syukuri, tapi secuil pertanyaan yang bersifat substansial agak menyangkut dalam setiap dada kita, dan ini harus segera ditemukan jawabannya. ”Benarkah negara kita sudah merdeka?”

Kemerdekaan secara harfiah dapat didefinisikan sebagai suatu kebebasan atau lepas dari ikatan dan kungkungan. Dalam Bahasa Inggris, kemerdekaan sering disebut-sebut dengan kata liberty, freedom, independence atau right. Kata-kata tersebut seringkali dipakai untuk mengacu kepada kemampuan orang untuk berbuat tanpa pembatasan-pembatasan .

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata merdeka berkaitan dengan penjajahan, berarti lepas dari berbagai bentuk penjajahan dan penghambaan manusia terhadap manusia lainnya, baik penjajahan secara fisik maupun penjajahan dalam bentuk ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Sementara itu dalam Wikipedia Indonesia, merdeka diartikan dengan pencapaian hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya atau saat di mana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi.

Melihat beberapa definisi dimuka, secara fisik mungkin (sekali lagi baru mungkin) kita sudah tidak lagi terjajah, akan tetapi apakah itu benar ? Bilamana melihat realitas sekarang kebebasan rakyat (khusunya rakyat kecil) masih suka diperkosa oleh para tuan-tuan para pemilik modal besar. Korupsi masih menjadi masalah besar yang mengerogoti uang rakyat. Kebodohan dan kemisikinan masih menjadi teman setia rakyat Indonesia. Sang payung hukumpun kini hanyalah memihak para orang-orang berduit. Dari secuil permasalahan tersebut dengan berat hati kita harus menyatakan kalau bangsa kita belumlah merdeka sepenuhnya.

Tak usah jauh-jauh, lihatlah disekeliling kita, masih banyak anak kecil yang tak bisa bersekolah dan lebih memilih untuk mengamen dijalanan karena yang ada dalam benak mereka pendidikan hanyalah untuk orang yang punya saja. Sungguh miris memang, karena hal itu terjadi setelah negara kita “merdeka” selama 64 tahun. Lagi-lagi yang menjadi permasalahan yang mendasar adalah kemisikinan. Siapakah yang harus bertanggung jawab ?

Bila direlevansikan dengan situasi di Indonesia saat ini yang masih hangat-hangatnya. Pada kesempatan kali ini, hari kemeredekaan tampaknya akan diisi oleh rasa waspada yang sangat karena di tanah air tercinta kita masih berkeliaran para teroris yang tidak akan pernah mengenal tempat dan waktu, kapanpun mereka bisa saja melakukan aksi terornya. Dari aksi ini cukup membuktikan kalau bangsa kita ternyata masih terjajah secara fisik. Pastinya sudah menjadi harapan kita sebagai warga negara menginginkan kehidupan yang damai. Rasa nyaman dan aman tinggal di negeri sendiri sudah tidak bias dielakan lagi harus menjadi hak kita.

Sungguh rasanya tak adil memang bila terus menerus “menyalahkan” pihak pemerintah, saat ini saatnya kita untuk bercermin dan intropeksi diri. Lihat saja pola hidup dan pola pikir kita para remaja sekarang, semuanya cenderung mengarah kepada pola hidup dan pola pikir dunia barat. Westernisasi sudah jadi wajah baru bangsa ini, nilai-nilai ketimuran sudah semakin terkikis habis oleh modernisasi yang tak bermoral. Bahkan bias dibilang kita lebih barat daripada orang baratnya. Jadi sedikit teringat apa yang ditulis oleh sosiolog muslim terkenal, Ibnu Khaldun. Beliau menyatakan bahwa "Yang kalah cenderung mengekor kepada yang menang dari segi pakaian, kendaraan, bentuk senjata yang dipakai, malah meniru dalam setiap cara hidup mereka, termasuk dalam masalah ini adalah mengikuti adat istiadat mereka, bidang seni; seperti seni lukis dan seni pahat (patung berhala), baik di dinding-dinding, pabrik-pabrik atau di rumah-rumah." Dalam era globalisasi saat ini secara hakiki remaja kita ternyata belumlah bisa disebut merdeka karena masih terjajah oleh gaya hidup Barat. Menjadi PR besar untuk remaja !!

Jalan menuju kemerdekaan ternyata masihlah sangat jauh, masih banyak “penjajahan-penjajahan” yang menyerang kita dalam bentuk baru. Saat ini bukan saatnya untuk menyalahkan dan mencari kambing hitam. Sudah saatnya tugas mencari makna kemerdekaan itu adalah kita sendiri, kitalah para aktor untuk memaknai dan mengisi kemerdekaan tersebut. Mari kita berjuang bersama-sama untuk mencapai Indonesia yang labih baik, adil, makmur, dan bermartabat. Tentu akan menjadi suatu kebanggan tersendiri bila bangsa kita tercinta sudah bisa merdeka dan tak lagi terjajah oleh apapun. Berpuluh-puluh tahun seremoni demi seremoni digelar untuk memperingati hari kemerdekaan Kita berharap semoga kemerdekaan kali ini bukanlah sekedar seremoni belaka yang tak sarat makna. Semoga perayaan kemerdaan Indonesia yang ke-64 ini menjadi langkal awal kita untuk meraih cita-cita bangsa yang sudah lama terpendam. Jangan sampai terjadi lagi dalam setiap perayaan hari kemerdekaan yang muncul adalah kata-kata “menagisi kemerdekaan”. Amin. Merdeka !!!

8 komentar:

ocim mengatakan...

merdeka ....

salam kenal bang

ngaco komuniti mengatakan...

merdeka, semangat kemerdekaan harus kita kibarkan, dan inilah perjuangan bangsa, kita musti berjuang dengan sangat ekstraordinary demi bangsa ini,, mampir dong di blog aku, kasih komen juga kalo bisa folllow, hehe !
http://gueachunt.blogspot.com/

agoez3 mengatakan...

Ya, jangan menangisi kemerdekaan. Merdeka:)

ocim mengatakan...

jangan menangis kawan, sesungguhnya hari kemerdekaan mst kita hargai dan rayakan sebab kita hanya bisa lakukan itu saja untuk mengenang jasa2 para pahlawan kita

Zippy mengatakan...

Kemerdekaannya masih bersifat semu...
Belum semua merasakan arti kemrdekaan sepenuhnya...
But, tetap MERDEKA lah..!!!!
Dirgahayu RI ke-64 :)

Semmy mengatakan...

Salam kenal ya :)

Anak SD mengatakan...

Wah, heroik sekali postingannya.
Salam kenal, Frelia si Anak SD yang mukanya jelek kayak kepiting rebus......
Please visit me back^^

indonesia bangkit mengatakan...

dan negeri ini terlalu mubazir untuk menjadi lemah....

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma