Essensi Cinta ?

Oleh : Dodi Faedlulloh

Perlu diakui memang suatu hal yang cukup sulit untuk menginpretasikan makna cinta secara valid. Setiap orang mendefinisakan kata cinta tersebut berbeda-beda sesuai dengan paradigmanya masing-masing. Itu hal wajar, karena setiap kepala memiliki buah pikiran yang berbeda pula. Hal ini semakin dipersulit lagi karena pada dasarnya bentuk cinta itu sendiri abstrak dan bahkan secara kasat mata tidak dapat dilihat dengan jelas. Kata ini kadang begitu dipuja tapi sering juga malah dihina dan diinjak-injak. Tak Jelas substansi cinta seperti apa.

Cinta ? Sebenarnya mahluk seperti apa cinta itu ? Layaknya organisme, mahluk yang bernama cinta ini berkembang, tumbuh dan menyesuaikan diri secara adaftif dengan perubahan zaman yang semakin hari semakin berubah. Nilai dan asumsi cinta juga kian hari kian terbentuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada disekitarnya Kalau lingkuangan itu positif tentu cinta itu akan bernuansakan hal-hal yang berbau positif, begitu juga sebaliknya bila cinta itu berada di lingkungan negative yang timbul adalah citra-citra buruk akibat cinta.

Sifat cinta itu sendiri tidak begitu jelas, terkadang konstruktif, dan bisa menjadi suatu motivator dan penyemangat hidup, akan tapi tidak sedikit juga justru bisa berakibat destruktif bagi para pemujanya. Kini sudah bukan berita yang aneh bila ada remaja melakukan bunuh diri karena sakit hati oleh cinta. Itulah si mahluk cinta, kadang lembut kadang juga menjadi ganas beringas dan bahkan bisa memakan korban (jiwa).

Untuk saat ini tampaknya karena cinta demonstrasi hati sering tidak bisa dihindarkan, desentralisasi dan distribusi “kasih sayang” sudah menjadi hal yang lumrah., konspirasi dan kolusi cinta biasa terjadi. Tapi dari hati saya secara pribadi sama sekali tidak berani melafalkankan hal-hal yang disebutkan tadi sebagai cinta. Sekali lagi itu sama sekali bukan cinta !

Cinta itu sejati bukan janji. Tak perlu berkoar-koar dalam mengungkapkan rasa cinta. Sikapi semuanya dengan wajar dan apa adanya. Selain perasaan, sebenanya kita masih punya logika (dalam artian akal sehat) yang dapat menuntun kita saat tersesat dan terdampar di pulau cinta. Cinta itu terang tidak buta dan tidak gelap.

Ditinjau secara empiris makna dan asumsi cinta kini tampaknya sudah mulai “berubah”. Saya memakai tanda petik untuk kata berubah. Perubahan (change) itu perlu, tapi dalam konteks ini perubahan terjadi bukanlah menuju suatu perbaikan melainkan sebaliknya “Cinta yaitu bercinta. Cinta tanpa bercinta bukanlah cinta.” Mungkin kalimat itu yang berada menghujam deras dibenak para remaja untuk saat ini.Ironis .

Hampir lebih dari sepuluh tahun zaman reformasi berjalan, dan si mahluk yang bernama cinta itupun mengalami reformasi (perubahan) juga. Tapi sayang kata reformasi disini bermakna kebalikannya. Perubahan justru terjadi dipoint-point yang dulu dianggap sebagai kebaikan. Point-point kebaikan tersebut kini tergeser oleh arus westernisasi yang semakin merajalela di tanah air tercinta. Justifikasi yang sering diucapkan adalah sebab dari globalisasi dan mengikuti trend yang ada. Sesempit itukah pikiran kita ?

Selain buta, kini cinta sudah tidak bisa lagi berbicara dan mendengar bahkan merasakan (tidak bisa melihat,berbicara,mendengar dan merasakan hal yang baik). Cinta kontemporer adalah bergriliya, meraba dan bercinta, tanpa hal-hal yang disebutkan tadi, mungkin para remaja sekarang akan bertolak pinggang dan bersuara dengan keras “Maaf cinta tanpa bercinta bukan cinta !”.

Risalah kecil ini memang belumlah sanggup memaparkan semuanya, karena sesunggunya masih banyak undercover yang tak terlihat bak fenomena gunung es yang hanya terlihat adalah permukaannya saja tapi bila melihat kedalam justru semakin banyak dan rumit.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

sesulit itukah cinta ????
hehehhe

kang ragil mengatakan...

cinta..memang sungguh indah..lebih indah..jika dilandasi oleh dasar cinta yang tulus dan ikhlas hanya karena yang diatas

Iwok mengatakan...

Kang Odhie, terima kasih banyak sudah membaca novel-novel saya. Bangga nih orang Tasik baca buku saya juga, soalnya di Gramedia Tasik buku2 saya malah nggak laku (larisnya malah di luar kota). hehehe

DODI FAEDLULLOH mengatakan...

KAng Ragil -> yup setuju kang ....


kang iwok -> iya sama-sama kang ,,, hehe

 
Creative Commons License
All contens are licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Creative Commons [cc] 2011 Dodi Faedlulloh . Style and Layout by Dodi | Bale Adarma